Pernahkah kita membayangkan bahwa salah satu strategi menjaga kesehatan tidak dimulai dari rumah sakit, melainkan dari meja makan?. Bagi lebih dari dua miliar Muslim di dunia, makan bukan sekadar memenuhi kebutuhan biologis, tetapi juga bagian dari ibadah. Menariknya, banyak prinsip pola makan dalam Islam yang kini mendapat dukungan dari berbagai temuan ilmiah modern.

  Dalam Islam, makanan tidak hanya dinilai dari kandungan gizinya, tetapi juga dari status halal dan thayyib. Halal berarti makanan yang diperbolehkan menurut syariat, sedangkan thayyib merujuk pada makanan yang baik, aman, bersih, dan menyehatkan. Kombinasi kedua konsep ini membentuk pola diet religius yang unik karena mengintegrasikan aspek spiritual, etika, dan kesehatan sekaligus.

  Prinsip halal memberikan batasan yang jelas terhadap makanan dan minuman yang berpotensi membahayakan kesehatan. Larangan mengkonsumsi alkohol, misalnya, telah lama menjadi bagian dari ajaran Islam. Dari sudut pandang medis, konsumsi alkohol diketahui berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit hati, gangguan kardiovaskular, berbagai jenis kanker, hingga ketergantungan zat. Oleh karena itu, larangan tersebut dapat dipandang sebagai bentuk pencegahan penyakit yang telah diterapkan jauh sebelum ilmu kedokteran modern berkembang.

  Selain itu, Islam juga mengatur tata cara penyembelihan hewan melalui metode zabiha. Proses ini menekankan pengeluaran darah secara maksimal sehingga diyakini dapat membantu menjaga kualitas dan keamanan daging. Meskipun tujuan utamanya adalah memenuhi ketentuan agama, praktik tersebut sekaligus menunjukkan perhatian terhadap aspek higienitas pangan yang saat ini menjadi fokus penting dalam kesehatan masyarakat.

  Dimensi lain yang menarik dari pola diet religius Islam adalah pengaturan waktu makan melalui ibadah puasa. Setiap bulan Ramadhan, umat Islam menahan diri dari makan dan minum sejak fajar hingga matahari terbenam. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa puasa Ramadhan dapat membantu memperbaiki profil lipid darah, meningkatkan kolesterol baik (HDL), menurunkan kolesterol jahat (LDL), serta mendukung pengendalian berat badan pada sebagian individu.

  Fenomena ini semakin menarik karena memiliki kemiripan dengan konsep intermittent fasting yang saat ini banyak dipromosikan dalam dunia kesehatan. Bedanya, puasa Ramadan tidak hanya berorientasi pada manfaat fisik, tetapi juga melatih pengendalian diri, kedisiplinan, serta kesadaran spiritual. 

Meski demikian, pola diet religius Islam tetap memerlukan perhatian terhadap keseimbangan gizi. Beberapa penelitian melaporkan adanya risiko kekurangan zat besi pada kelompok tertentu, terutama jika konsumsi sumber protein hewani tidak mencukupi. Selain itu, defisiensi vitamin D juga dapat terjadi pada individu dengan paparan sinar matahari yang terbatas. Kondisi ini menunjukkan bahwa menjalankan pola makan sesuai syariat perlu disertai pemahaman gizi yang baik agar manfaat kesehatannya dapat diperoleh secara optimal.

  Perkembangan yang sangat menarik dalam beberapa tahun terakhir adalah meningkatnya perhatian terhadap konsep thayyib. Jika selama ini masyarakat lebih fokus pada status halal suatu produk, kini muncul kesadaran bahwa makanan juga harus berkualitas dan menyehatkan. Konsep thayyib mendorong konsumsi makanan utuh (whole foods), memperbanyak buah dan sayuran, membatasi makanan ultra-proses, serta memperhatikan cara produksi yang etis dan berkelanjutan.

 Prinsip ini selaras dengan berbagai rekomendasi kesehatan global untuk mencegah penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan obesitas. Tidak mengherankan jika makanan yang sering disebut dalam tradisi Islam, seperti kurma, madu, zaitun, dan delima, kini banyak diteliti karena potensinya dalam mendukung kesehatan.

  Pada akhirnya, pola diet religius Islam menunjukkan bahwa kesehatan bukan hanya persoalan kalori dan zat gizi. Di dalamnya terdapat dimensi spiritual yang mampu menjadi motivasi kuat untuk mempertahankan perilaku sehat dalam jangka panjang. Ketika seseorang memandang makan sebagai bagian dari ibadah, kepatuhan terhadap pola hidup sehat tidak lagi sekadar tuntutan medis, tetapi juga bentuk tanggung jawab moral dan spiritual.

  Untuk itu, pola diet religius dalam Islam merupakan perpaduan antara nilai spiritual dan prinsip kesehatan yang saling melengkapi. Konsep halal melindungi dari konsumsi zat berbahaya, puasa melatih pengendalian diri sekaligus mendukung kesehatan metabolik, sedangkan konsep thayyib mendorong konsumsi makanan yang berkualitas dan menyehatkan. Di tengah meningkatnya prevalensi penyakit tidak menular di seluruh dunia, pola makan Islam menawarkan pelajaran penting bahwa menjaga kesehatan dapat dimulai dari pilihan makanan sehari-hari yang didasari kesadaran spiritual. Perpaduan antara ajaran agama dan bukti ilmiah menjadikan diet religius Islam sebagai salah satu pendekatan yang relevan untuk membangun masyarakat yang lebih sehat secara fisik maupun mental.

Penulis : Endah Budi Permana Putri, S.T.P., M.PH. Program Studi S1 Gizi, Departemen Gizi,  Fakultas Kesehatan, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya