SURABAYA – Menjadi sarjana pertama di keluarga bukan sekadar pencapaian akademik. Bagi seorang lulusan Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA), gelar tersebut merupakan buah dari doa, perjuangan keluarga, dan keyakinan seorang nenek yang sejak kecil mengajarkannya untuk berani bermimpi. Di balik pencapaian sebagai salah satu wisudawan terbaik, tersimpan perjalanan panjang tentang keterbatasan, kegigihan, dan keberanian memanfaatkan setiap kesempatan. Sosok nenek menjadi bagian paling berarti dalam perjalanan tersebut.
Sejak kecil, ia tumbuh bersama neneknya. Di tengah keterbatasan keluarga, sang nenek selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi pendidikannya. Bukan melalui langkah besar atau kemewahan, melainkan melalui doa, usaha, dan keyakinan bahwa pendidikan dapat membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik. “Gelar ini mungkin tertulis atas nama saya, tetapi di dalamnya ada doa, usaha, dan cinta nenek yang akan selalu menjadi bagian dari perjalanan saya.” Kalimat tersebut merangkum makna kelulusan yang jauh melampaui selembar ijazah. Pendidikan menjadi jalan untuk bertumbuh sekaligus harapan agar generasi berikutnya dalam keluarga memiliki kesempatan yang lebih luas.
Berawal dari Beasiswa KIP Kuliah dan IPK 4,00
Perjalanan akademiknya dimulai di Program Studi Kesehatan Masyarakat UNUSA. Saat pertama kali memasuki bangku kuliah, ia tidak secara khusus menargetkan diri menjadi mahasiswa berprestasi. Fokus utamanya adalah menjalani setiap kesempatan dengan sebaik-baiknya.
Kesempatan memperoleh beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah) menjadi tanggung jawab tersendiri. Baginya, bantuan pendidikan tersebut harus dimanfaatkan secara optimal, bukan hanya untuk menyelesaikan perkuliahan, tetapi juga untuk mengembangkan kemampuan diri.
Pada semester pertama dan kedua, ia berhasil meraih IPK 4,00. Namun, perjalanan itu tidak selalu berjalan mulus. Memasuki semester ketiga, IPK-nya mengalami penurunan akibat satu mata kuliah.
Pengalaman tersebut justru menjadi ruang pembelajaran. Ia memahami bahwa perjalanan akademik tidak selalu sempurna dan setiap kekurangan dapat menjadi kesempatan untuk memperbaiki diri.
Mengembangkan Potensi Melalui Kewirausahaan Mahasiswa
Pada semester ketiga, ia mulai mencoba pengalaman baru melalui kompetisi business plan. Bersama timnya, ia berhasil menjadi finalis dan memperoleh pendanaan dari program studi.
Gagasan yang dikembangkan tidak berhenti sebagai proposal kompetisi. Usaha tersebut berlanjut hingga menghasilkan penjualan dalam jumlah besar pada periode 2023–2024. Ia juga berhasil meraih juara kedua dalam kompetisi poster yang diselenggarakan oleh program studi.
Pengalaman tersebut memperluas pemahamannya tentang proses belajar di perguruan tinggi. Selain kemampuan akademik, mahasiswa perlu mengembangkan kreativitas, komunikasi, kolaborasi, dan keberanian untuk mengubah gagasan menjadi sesuatu yang bernilai.
Baginya, ruang belajar tidak hanya terbatas pada ruang kelas. Setiap kompetisi dan kesempatan mencoba hal baru menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan diri serta kemampuan menghadapi tantangan.
Terjun Langsung ke Dunia Kesehatan Masyarakat Melalui MSIB
Kesempatan berharga lainnya datang melalui program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) Batch 7 di Dinas Kesehatan Kota Surabaya. Melalui program tersebut, ia memperoleh pengalaman langsung mengenai penerapan ilmu kesehatan masyarakat, khususnya dalam bidang gizi dan pendampingan balita yang mengalami masalah gizi.
Pengalaman lapangan ini mempertemukan teori yang dipelajari selama perkuliahan dengan persoalan kesehatan yang dihadapi masyarakat. Ia semakin memahami pentingnya pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dalam mendukung upaya peningkatan derajat kesehatan. Pengalaman tersebut kemudian mendorongnya mengembangkan penelitian mengenai stunting. Penelitian itu berhasil diterbitkan dalam jurnal ilmiah terakreditasi SINTA 3 pada November 2025.
Publikasi ilmiah tersebut sekaligus menjadi jalur yang ditempuhnya untuk menyelesaikan pendidikan tanpa skripsi melalui skema publikasi ilmiah yang berlaku di program studinya. Pencapaian ini menunjukkan bahwa pengalaman lapangan, kemampuan meneliti, dan ketekunan akademik dapat saling mendukung dalam menghasilkan karya ilmiah yang relevan dengan persoalan kesehatan masyarakat.
Meraih Prestasi Kewirausahaan Tingkat Nasional
Perjalanan prestasinya berlanjut pada Oktober 2025. Ia berhasil meraih juara kedua dalam kompetisi inovasi kewirausahaan tingkat nasional pada The 4th Indonesian Public Health Olympiad (IPHO). Kompetisi yang diselenggarakan di Universitas Diponegoro tersebut menjadi pengalaman berharga sekaligus pencapaian yang sebelumnya tidak pernah sepenuhnya ia bayangkan.
Kesempatan untuk berkompetisi di tingkat nasional mengajarkannya bahwa keberanian mencoba dapat membuka peluang yang lebih luas. Pengalaman tersebut juga mempertemukan ilmu kesehatan masyarakat dengan semangat inovasi dan kewirausahaan. Rangkaian pencapaian akademik dan nonakademik itu menjadi bukti bahwa mahasiswa dapat mengembangkan potensi melalui beragam jalur, sesuai dengan minat, kemampuan, dan kesempatan yang dimiliki.
Bertumbuh dengan Proses dan Waktu yang Berbeda
Dalam perjalanan kuliahnya, ia tidak selalu aktif berorganisasi seperti mahasiswa lainnya. Pada semester pertama hingga kelima, ia lebih banyak memusatkan perhatian pada akademik dan pengembangan kemampuan di luar kelas. Setelah menyelesaikan penelitian, ia mulai memberanikan diri terlibat dalam organisasi Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) tingkat universitas pada semester kedelapan.
Keputusan tersebut menjadi bagian dari proses pengembangan diri yang dijalaninya. Ia menyadari bahwa setiap mahasiswa memiliki waktu, prioritas, dan proses bertumbuh yang berbeda. Tidak semua pengalaman harus dijalani pada waktu yang sama. Ada yang berkembang melalui organisasi sejak awal perkuliahan, sementara yang lain menemukan kesempatan untuk terlibat setelah melewati proses akademik dan pengembangan diri. Hal terpenting adalah tetap terbuka terhadap kesempatan baru dan berani melangkah ketika waktunya tiba.
Lolos MagangHub dalam Satu Kali Percobaan
Setelah menyelesaikan pendidikan, kesempatan baru kembali datang. Ia berhasil lolos dalam satu kali percobaan pada program MagangHub yang diselenggarakan oleh Kementerian Ketenagakerjaan.
Bagi dirinya, kesempatan tersebut menjadi batu pijakan untuk memasuki dunia kerja, menambah pengalaman profesional, dan mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan dalam perjalanan karier. Kelulusan dari perguruan tinggi bukanlah akhir dari proses belajar. Sebaliknya, fase ini menjadi awal untuk menerapkan pengetahuan, membangun pengalaman, dan menemukan ruang kontribusi yang lebih luas. Ia berharap pengalaman yang diperoleh selama perkuliahan dapat menjadi bekal untuk menghadapi tantangan profesional sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Membawa Harapan Baru bagi Keluarga
Kini, menjadi sarjana pertama di keluarga memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar memperoleh gelar. Pencapaian tersebut menjadi harapan agar anggota keluarga lainnya semakin berani melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ia juga berharap ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama menempuh pendidikan di UNUSA dapat menjadi bekal untuk berkontribusi bagi masyarakat, terutama dalam bidang kesehatan masyarakat.
Perjalanan ini mengingatkannya pada sosok perempuan yang pertama kali menyalakan keyakinan tentang pentingnya pendidikan dalam hidupnya. Jika Kartini memperjuangkan kesempatan perempuan melalui pendidikan, neneklah yang pertama kali menyalakan cahaya itu dalam hidupnya.
Gelar sarjana ini mungkin tercantum atas namanya, tetapi perjuangan tersebut tidak pernah menjadi miliknya seorang diri. Ada doa seorang nenek, dukungan keluarga, kesempatan pendidikan, dan keberanian untuk terus melangkah di balik setiap pencapaian. Kisah ini menjadi pengingat bahwa setiap mahasiswa memiliki perjalanan yang berbeda. Keterbatasan bukan selalu menjadi akhir dari kesempatan, dan keberhasilan tidak selalu lahir dari ambisi untuk menjadi yang terbaik.
Terkadang, keberhasilan tumbuh dari keinginan sederhana untuk melakukan yang terbaik, satu langkah demi satu langkah. Dari seorang cucu yang dibesarkan oleh doa neneknya, lahir harapan baru bagi sebuah keluarga. Sebab, ketika pendidikan membuka satu pintu, peluang untuk mengubah masa depan dapat terbuka lebih luas.
Penulis: Wisudawan Terbaik S1 Kesmas – Alivi Qotrun Nada
Komentar Terbaru