Ada satu pemikiran yang masih sering dijumpai di tempat kerja: selama pekerjaan dapat diselesaikan tanpa kecelakaan, berarti pekerjaan tersebut aman. Padahal, tidak terjadinya kecelakaan tidak selalu menunjukkan bahwa risiko telah dikendalikan dengan baik. Bisa jadi, pekerja telah menjalankan prosedur dengan benar. Namun, bisa juga pekerjaan berlangsung dalam kondisi berbahaya yang kebetulan belum menimbulkan cedera atau kerugian.
Di sinilah pentingnya mengubah cara pandang terhadap keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Keselamatan bukanlah hasil dari keberuntungan, melainkan hasil dari keputusan yang tepat, perilaku yang bertanggung jawab, serta sistem kerja yang mampu mengendalikan risiko secara konsisten. Dalam dunia kerja, keberhasilan sering diukur melalui target produksi, kecepatan, efisiensi, dan kualitas hasil. Semua indikator tersebut memang penting bagi keberlangsungan organisasi. Namun, pencapaian target tidak seharusnya dibayar dengan meningkatnya risiko terhadap keselamatan manusia.
Pekerjaan yang selesai tepat waktu tetapi dilakukan dengan mengabaikan bahaya bukanlah keberhasilan yang sesungguhnya. Produktivitas juga tidak dapat disebut berkelanjutan apabila dibangun di atas kondisi kerja yang membahayakan pekerja. Oleh karena itu, keselamatan perlu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari setiap proses kerja, bukan sekadar kegiatan tambahan yang baru diperhatikan setelah terjadi kecelakaan.
Kepatuhan Adalah Dasar, Kesadaran Adalah Penggerak
Kepatuhan dan kesadaran merupakan dua unsur penting dalam membangun keselamatan kerja. Keduanya saling melengkapi, tetapi memiliki peran yang berbeda. Kepatuhan memastikan bahwa pekerja menjalankan prosedur dengan benar, menggunakan alat pelindung diri (APD) sesuai ketentuan, mengikuti instruksi kerja, serta mematuhi standar keselamatan yang berlaku. Tanpa kepatuhan, prosedur yang dirancang untuk mengendalikan bahaya hanya akan menjadi dokumen yang tidak dapat memberikan perlindungan nyata.
Namun, kepatuhan saja belum cukup. Pekerja perlu mengikuti prosedur karena diawasi oleh supervisor atau khawatir menerima sanksi. Ketika pengawasan berkurang, perilaku tersebut berpotensi berubah. Inilah sebabnya mengapa organisasi perlu menumbuhkan kesadaran keselamatan, yaitu pemahaman bahwa setiap tindakan kerja memiliki konsekuensi dan bahwa prosedur keselamatan dibuat untuk melindungi manusia, bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif.
Pekerja yang memiliki kesadaran keselamatan tidak hanya bertanya, “Apakah saya sudah mengikuti aturan?” Mereka juga bertanya, “Apakah pekerjaan ini aman dilakukan? Apakah masih ada bahaya yang belum dikendalikan? Apa yang harus saya lakukan jika kondisi di lapangan berubah?”
Perubahan pertanyaan tersebut menunjukkan pergeseran cara berpikir: dari sekadar melaksanakan perintah menjadi kemampuan menilai situasi, mengenali bahaya, dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
Meski demikian, kesadaran individu tidak boleh dijadikan alasan bagi organisasi untuk mengabaikan tanggung jawabnya. Pekerja tidak dapat diharapkan selalu bertindak aman apabila harus bekerja dengan peralatan yang tidak layak, prosedur yang tidak realistis, waktu kerja yang tidak memadai, atau tekanan produksi yang berlebihan. Kesadaran dan kepatuhan perlu didukung oleh sistem kerja yang memungkinkan tindakan aman benar-benar dilakukan.

Penulis : Dr. Muslikha Nourma Rhomadhoni, S.KM., M.Kes
- Dekan Fakultas Kesehatan
- Dosen program studi D-IV Keselamatan dan Kesehatan Kerja – UNUSA
Komentar Terbaru