Remaja merupakan salah satu kelompok rentan gizi. Laporan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) pada tahun 2023 menunjukkan bahwa 12,1% remaja di Indonesia mengalami obesitas dan overweight, 8,3% mengalami status gizi kurus (thinnes), dan 23,7% remaja usia 16-18 tahun mengalami stunting. Di Jawa Timur sendiri, prevalensi obesitas dan overweight pada remaja sebesar 14,9% (lebih tinggi dari rata-rata nasional), thinnes 8,1%, dan stunting 22,6%.
Menurut Wells (2022), Faktor-faktor seperti perubahan pola makan dan aktivitas fisik dikaitkan dengan masalah gizi atau malnutrisi. Martin et al (2023) menyebutkan saat ini terjadi pergeseran pola konsumsi pada remaja, yaitu pergeseran dari makanan rumahan ke makanan cepat saji, seperti keragaman pangan yang kurang, mengkonsumsi jajanan tinggi gula, garam, dan lemak. Menurut data SKI pada tahun 2023, di Indonesia, konsumsi makanan instan, yang dikenal sebagai makanan beresiko terus mengalami peningkatan dari 58,5% pada 2018 menjadi 60,7% pada 2023. Jumlah anak dan remaja yang mengkonsumsi makanan instan sebanyak 1-6 kali seminggu sebesar 71,5%.
Dalam pembentukan pola makan sehat dan pencegahan masalah gizi pada remaja dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Program Studi S1 Gizi Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) mengambil peran dalam pelatihan pemantauan status gizi dan edukasi membaca label gizi pada produk pangan kemasan. Hal ini sebagai salah satu bentuk komitmen prodi S1 Gizi Unusa untuk membantu menurunkan masalah gizi di Indonesia.
Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 19 Mei 2026 di SMK YPM 2 Taman, Sidoarjo. Diawali dengan menggali pengetahuan siswa terkait pemantauan status gizi dan label gizi pada produk pangan kemasan, kemudian pada sesi 1 dilakukan demonstrasi pengukuran berat badan dan tinggi badan serta perhitungan status gizi. Setelah itu siswa diminta untuk mempraktekkan langsung pengukuran berat badan, tinggi badan, dan menghitung status gizi secara berpasangan. Setelah sesi 1 selesai, dilanjutkan dengan sesi 2 yaitu pemutaran video cara membaca label gizi. Setelah semua kegiatan selesai, siswa diminta kembali menjawab post-test. Hasil pengabdian ini adalah adanya peningkatan pengetahuan siswa tentang perhitungan status gizi dan cara membaca label gizi pada produk pangan.
Penulis: Anugrah Linda Mutiarani, S.Gz., M.Kes
Komentar Terbaru