SURABAYA – Berasal dari pelosok Lampung tidak menghalangi Ngiluhtara Aditiya Putri untuk meraih prestasi di perguruan tinggi. Berbekal beasiswa, doa keluarga, dan kerja keras, ia berhasil meraih predikat Wisudawan Terbaik Program Studi D4 Analis Kesehatan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA). Perjalanan Ngiluhtara bukanlah kisah tentang keberhasilan yang datang secara tiba-tiba. Sejak awal kuliah, ia telah menyimpan satu mimpi besar: menjadi mahasiswa berprestasi dan berdiri sebagai wisudawan terbaik.

Mimpi itu ia rawat melalui proses panjang. Mulai dari meninggalkan kampung halaman, mengikuti berbagai kegiatan akademik, meraih hibah Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), hingga menyelesaikan tugas akhir. Semua menjadi bagian dari perjalanan yang akhirnya membawanya menuju panggung wisuda. “Mimpi yang besar tidak selalu membutuhkan langkah yang besar. Terkadang, ia hanya membutuhkan keberanian untuk memulai.”

Berawal dari Lampung, Membuka Jalan Menuju UNUSA

Kisah Ngiluhtara dimulai pada 2021. Setelah lulus dari SMK Yadika Pagelaran, Lampung, Sebagai seorang anak yang berasal dari daerah, ia memiliki keinginan besar untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan mendapatkan kesempatan belajar di luar daerahnya.

Kesempatan itu datang melalui program beasiswa Online Scholarship Competition (OSC) 2021. Ia mendaftarkan diri dengan memilih Program Studi D4 Analis Kesehatan di UNUSA. Namun, keputusan tersebut bukan sekadar pilihan jurusan maupun kampus. Di dalam dirinya, Ngiluhtara telah memiliki sebuah visi sederhana: ia ingin menjadi mahasiswa berprestasi dan suatu hari menjadi wisudawan terbaik. Mimpi itu bahkan telah menjadi bagian dari wishlist-nya sejak sebelum berangkat ke Surabaya.

Ia ingin membuktikan bahwa berasal dari daerah bukanlah batas untuk memiliki cita-cita yang tinggi. Bahwa seseorang yang datang dari jauh, bahkan dari pelosok Lampung, juga memiliki kesempatan untuk berdiri di panggung terbaik dan mengukir prestasi. Setelah melalui proses seleksi, kabar yang ditunggu akhirnya datang. Ngiluhtara dinyatakan “lolos sebagai penerima beasiswa OSC 2021”. Bagi dirinya, kelulusan tersebut bukan hanya kabar baik. Itu adalah pintu pertama menuju mimpi yang selama ini ia bayangkan.

Pada 25 Agustus 2022, ia berangkat dari Bandara Radin Inten II Lampung menuju Bandara Juanda Surabaya. Perjalanan tersebut menjadi awal dari babak baru dalam hidupnya. Jauh dari keluarga, jauh dari kampung halaman, dan berada di lingkungan yang sama sekali baru, Ngiluhtara membawa sesuatu yang tidak terlihat tetapi selalu menyertainya: doa dan harapan. Dalam setiap langkahnya, ia menitipkan satu doa yang terus ia ingat: “Semoga saya bisa mendapatkan IPK 4,00 dan menjadi wisudawan terbaik”.

Tidak Menunggu Semester Akhir untuk Berprestasi

Sejak awal kuliah, Ngiluhtara memiliki satu prinsip yang hingga kini ia pegang: Semester awal adalah waktu terbaik untuk mengejar pengalaman dan prestasi. Ia menyadari bahwa semakin tinggi semester, semakin besar pula tanggung jawab akademik yang harus dihadapi. Ketika memasuki semester akhir, perhatian akan lebih banyak tercurahkan pada penelitian dan tugas akhir. Karena itu, Ia mulai mengikuti berbagai kegiatan, organisasi, volunteer, hingga kesempatan akademik yang datang kepadanya.

Pada masa-masa awal perkuliahan, ia juga mulai berkenalan dengan kakak tingkat dari program studi lain, di antaranya dari PGSD dan K3. Dari relasi tersebut, ia mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Pengalaman itu kemudian membawanya dan tim memperoleh “hibah PKM”, di antaranya melalui PKM-RSH (Riset Sosial Humaniora) dan PKM-PM (Pengabdian kepada Masyarakat) pada tahun 2023. Bagi Ngiluhtara, pengalaman tersebut bukan sekadar menambah daftar prestasi. Ia belajar
bagaimana
Keaktifan, kreativitas, kolaborasi, dan kemauan untuk terus belajar turut membentuk perjalanan seorang mahasiswa.

Menjadi mahasiswa adalah tentang berani mencoba, berani gagal, berani belajar, dan berani mengambil kesempatan. “Terlalu Ambisius” yang Justru Menjadi Kekuatan. Dalam perjalanan tersebut, Ngiluhtara pernah merasa bahwa dirinya mungkin terlalu ambisius. Ia memiliki standar tersendiri terhadap pekerjaan yang dilakukannya. Dalam kegiatan praktikum, misalnya, ketika teman-temannya ingin melihat hasil atau membandingkan jawaban, Ngiluhtara lebih memilih untuk percaya pada hasil pekerjaannya sendiri.  Bukan karena merasa paling pintar, tetapi karena ia ingin membangun keyakinan bahwa apa pun yang ia hasilkan harus dapat ia pertanggungjawabkan.

Menyelesaikan Tugas Akhir dengan Persiapan Sejak Dini 

Waktu terus berjalan hingga akhirnya Ngiluhtara memasuki semester enam. Pada fase tersebut, ia mulai memikirkan penelitian dan tugas akhir. Bukan hanya memikirkan topik penelitian, ia juga mulai mempertimbangkan bagaimana penelitian tersebut dapat dilaksanakan dengan baik tanpa menimbulkan beban biaya yang terlalu besar. Ia ingin penelitiannya tetap berkualitas, tetapi di sisi lain ia juga harus realistis dengan kondisi yang dimiliki. Dalam proses tersebut, ia mencari dosen pembimbing yang dapat mendampingi dan mendukung penelitian yang ingin dilakukannya.

Hingga akhirnya, ia dipertemukan dengan Ibu Devyana Dyah Wulandari, S.Si., M.Si, yang bersedia menerima dan membimbingnya dalam penyelesaian tugas akhir. Bagi Ngiluhtara, kesempatan tersebut menjadi salah satu hal yang sangat ia syukuri. Ia menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada dosen pembimbingnya yang telah menerima dirinya sebagai mahasiswa bimbingan, memberikan arahan, serta mendampingi proses penelitian hingga tugas akhir dapat diselesaikan. Baginya, keberhasilan menyelesaikan tugas akhir tidak pernah berdiri sendiri. Ada doa, usaha, dukungan keluarga, teman, serta bimbingan dosen yang menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

Memasuki semester akhir, Ngiluhtara justru merasa proses tugas akhirnya berjalan dengan cukup lancar, aman, dan terkendali. Keputusan untuk mempersiapkan diri sejak jauh-jauh hari ternyata memberikan dampak yang besar. Ketika mahasiswa mulai disibukkan dengan tugas akhir, penelitian, dan berbagai tuntutan akademik, ia berusaha menjalani semuanya dengan tenang. Ia menyelesaikan penelitian, menjalani proses bimbingan, melakukan revisi, menyusun laporan, hingga akhirnya sampai pada tahap penyelesaian tugas akhir. Di titik tersebut, ia kembali menyadari bahwa prinsip yang ia bangun sejak semester awal ternyata benar: Jangan menunggu semester akhir untuk mulai berjuang. Apa yang dilakukan sejak awal akan menjadi bekal ketika menghadapi masa-masa terakhir perkuliahan.

Bekerja Paruh Waktu Sambil Menyiapkan Masa Depan

Di tengah proses menyelesaikan pendidikan, Ngiluhtara mulai memikirkan masa depannya setelah lulus. Ia mulai memiliki keinginan untuk segera bekerja. Sambil menunggu proses yudisium dan berbagai tahapan menuju kelulusan, ia mengambil pekerjaan part-time sebagai karyawan laundry. Bagi sebagian orang, pekerjaan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi Ngiluhtara, tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil untuk dijalani selama dilakukan dengan tanggung jawab.

Dari pekerjaan tersebut, ia belajar mengenai kedisiplinan, tanggung jawab, mengatur waktu, melayani orang lain, dan menghargai proses mendapatkan sesuatu melalui usaha sendiri dan bisa membawa orang tua dari lampung ke surabaya dan menghadiri acara wisuda sebagai wali wisudawan terbaik.

Dari Penerima Beasiswa Menjadi Wisudawan Terbaik D4 Analis Kesehatan

Dulu, ketika masih berada di Lampung, Ngiluhtara hanya memiliki sebuah wishlist sederhana: menjadi mahasiswa berprestasi dan menjadi wisudawan terbaik. Hari ini, mimpi itu tidak lagi hanya tertulis dalam sebuah daftar keinginan. Mimpi itu telah menjadi kenyataan.

Bagi Ngiluhtara,  ini adalah awal dari perjalanan berikutnya. Ia ingin membawa semua pengalaman yang diperoleh selama berada di UNUSA untuk melangkah ke dunia profesional, memberikan manfaat bagi orang lain, dan terus berkembang sebagai seorang tenaga kesehatan yang kompeten dan berintegritas. Perjalanan ini juga menjadi bukti bahwa kesempatan dapat mengubah hidup seseorang. 

Kisahnya mengajarkan satu hal sederhana:
Jangan pernah merasa bahwa tempat kita berasal menentukan sejauh mana kita boleh bermimpi. Karena terkadang, mimpi yang paling besar justru lahir dari tempat yang paling jauh dari pusat perhatian. Berani bermimpi. Berani melangkah. Berani berproses. Dan jangan berhenti sebelum doa yang pernah dititipkan benar-benar menemukan jalannya untuk menjadi nyata.