Surabaya – Anemia pada remaja putri masih menjadi persoalan gizi yang perlu mendapat perhatian serius. Tidak hanya memberikan edukasi, tim dosen dan mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) mengajak para santriwati mengenali kondisi kesehatannya melalui skrining sekaligus belajar memanfaatkan kulit jeruk menjadi pangan fungsional.
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Dari Edukasi ke Aksi: Pencegahan Anemia melalui Skrining dan Pemanfaatan Limbah Kulit Jeruk Menjadi Cokelat Fungsional di Pondok Pesantren Putri Hikmatun Najiyah” yang dilaksanakan pada 21 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Putri Hikmatun Najiyah. Kegiatan ini memperoleh pendanaan dari Direktorat Riset, Inovasi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRIPM) UNUSA.
Program dirancang dengan mengintegrasikan tiga pendekatan, yakni edukasi gizi, skrining anemia, dan inovasi pangan berupa cokelat kulit jeruk. Pendekatan tersebut dipilih karena kondisi awal mitra menunjukkan belum adanya skrining anemia secara rutin, terbatasnya edukasi gizi, serta belum adanya pelatihan pengolahan pangan fungsional bagi santriwati.
Ketua tim pengabdian, Dr. Dini Setiarsih, S.P., M.Kes., menjelaskan bahwa kegiatan tidak berhenti pada penyampaian informasi mengenai anemia. Santriwati juga diajak memahami kondisi kesehatannya dan menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
“Pencegahan anemia tidak cukup hanya dengan mengetahui apa itu anemia. Remaja putri perlu mampu mengenali risikonya, memahami pentingnya pola makan bergizi seimbang, serta memiliki keterampilan dalam memilih dan mengolah pangan yang dapat mendukung pemenuhan zat gizi,” jelas Dini.
Skrining Temukan 73,9 Persen Peserta Mengalami Anemia
Salah satu bagian penting kegiatan adalah skrining kadar hemoglobin (Hb). Dari 23 santriwati yang menjalani pemeriksaan, sebanyak 17 orang atau 73,9 persen teridentifikasi mengalami anemia, sedangkan enam santriwati atau 26,1 persen tidak mengalami anemia.
Temuan tersebut menjadi informasi penting bagi santriwati maupun pengelola pesantren. Sebelumnya, data mengenai kejadian anemia di lokasi mitra belum tersedia karena belum dilakukan kegiatan skrining dan pemeriksaan Hb secara rutin.
Skrining menjadi pintu masuk untuk meningkatkan kesadaran bahwa anemia pada remaja putri perlu dideteksi sejak dini. Dalam kegiatan ini, pemeriksaan kesehatan tidak berdiri sendiri, tetapi diikuti dengan edukasi mengenai penyebab, gejala, pencegahan anemia, serta pentingnya konsumsi makanan bergizi seimbang dan sumber zat besi. Konsep program sejak awal memang dirancang sebagai rangkaian edukasi–skrining–intervensi pangan untuk mendorong perubahan perilaku dan peningkatan status gizi.
Pengetahuan Santriwati Meningkat
Edukasi diberikan menggunakan pendekatan interaktif yang mendorong peserta untuk terlibat aktif, tidak sekadar mendengarkan materi. Untuk mengetahui pemahaman peserta, tim melakukan evaluasi melalui pre-test dan post-test.
Hasil evaluasi menunjukkan rata-rata skor pengetahuan peserta pada pre-test sebesar 9,25 dari skor maksimal 10, sedangkan pada post-test rata-rata mencapai 9,80. Seluruh peserta yang mengikuti post-test memperoleh skor minimal 9 dari 10. Hasil tersebut menunjukkan tingkat pemahaman peserta setelah kegiatan berada pada kategori yang sangat baik.
Pendekatan edukasi ini sesuai dengan rancangan program yang menempatkan pengetahuan dan sikap terkait pencegahan anemia sebagai salah satu aspek yang perlu diperkuat. Edukasi pun dirancang menggunakan metode yang menekankan keterlibatan, emosi, motivasi, dan perubahan perilaku peserta.
Kulit Jeruk Disulap Menjadi Cokelat Fungsional
Kegiatan menjadi semakin menarik ketika santriwati diperkenalkan dengan cokelat kulit jeruk. Melalui demonstrasi dan praktik, peserta memperoleh pengetahuan mengenai pemanfaatan kulit jeruk yang selama ini lebih sering dianggap sebagai limbah menjadi bahan pangan bernilai tambah.
Kulit jeruk diolah melalui tahapan pembersihan, pengeringan dan penghalusan menjadi bubuk, kemudian digunakan dalam pengolahan cokelat. Dengan pendekatan learning by doing, santriwati tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga pengalaman praktis dalam pengolahan pangan. Tahapan demonstrasi tersebut memang dirancang sebagai bagian dari pemberdayaan peserta agar mampu mengenal dan mengolah pangan fungsional secara lebih mandiri.
Inovasi cokelat kulit jeruk yang diperkenalkan kepada santriwati juga merupakan hilirisasi dari rangkaian penelitian tim. Penelitian sebelumnya menunjukkan formulasi cokelat dengan penambahan kulit jeruk memiliki kandungan zat besi, vitamin C, dan flavonoid. Penelitian lanjutan tim juga telah mengkaji pemberian cokelat kulit jeruk pada remaja putri maupun model hewan anemia.
Melalui inovasi tersebut, kegiatan PkM sekaligus memperkenalkan gagasan bahwa limbah pangan dapat memiliki nilai tambah apabila diolah dengan tepat. Dengan demikian, program tidak hanya membawa pesan kesehatan mengenai pencegahan anemia, tetapi juga mengenalkan pemanfaatan sumber daya pangan secara lebih kreatif.
Kolaborasi Dosen, Mahasiswa, dan Pesantren
Program Pengabdian kepada Masyarakat ini melibatkan tim multidisiplin UNUSA yang terdiri atas dosen dan mahasiswa. Tim diketuai oleh Dr. Dini Setiarsih, S.P., M.Kes., dengan anggota dosen Anugrah Linda Mutiarani, S.Gz., M.Kes., Dietesien; Paramita Viantry, S.Gz., RD., M.Biomed.; dan Novi Ersanto, S.Si., M.Si. Mahasiswa turut terlibat dalam koordinasi kegiatan, dokumentasi, perlengkapan, edukasi, serta administrasi program.
Pihak Pondok Pesantren Putri Hikmatun Najiyah juga berperan aktif dalam mendukung pelaksanaan kegiatan, mulai dari fasilitasi kegiatan dan koordinasi peserta hingga pendampingan santriwati selama program berlangsung. Keterlibatan aktif pesantren diharapkan menjadi modal penting agar pesan-pesan pencegahan anemia dapat terus diterapkan setelah kegiatan pengabdian selesai.
Program ini sekaligus mendukung upaya peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat serta perbaikan gizi, sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 3: Good Health and Well-being dan SDGs 2: Zero Hunger. (AWP)
Komentar Terbaru