Sidoarjo – Fakultas Kesehatan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) terus mendorong peningkatan kesadaran kesehatan di kalangan remaja melalui kegiatan edukasi gizi seimbang dan pemeriksaan status gizi. Kali ini, sebanyak 90 siswa SMK YPM 2 Sidoarjo mengikuti kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada pembentukan kebiasaan makan sehat dan deteksi dini masalah gizi. Kegiatan ini menjadi langkah nyata untuk membangun generasi muda yang lebih sehat, produktif, dan peduli terhadap kebutuhan gizinya sejak dini. 

Edukasi Gizi Seimbang, Bekal Penting bagi Remaja

Masa remaja merupakan periode pertumbuhan yang membutuhkan asupan zat gizi yang cukup dan seimbang. Sayangnya, kebiasaan melewatkan sarapan, rendahnya konsumsi sayur dan buah, serta tingginya konsumsi makanan cepat saji dan minuman manis masih menjadi tantangan dalam menjaga kesehatan remaja.

Melalui edukasi interaktif, siswa memperoleh pemahaman mengenai prinsip gizi seimbang, konsep Isi Piringku, pentingnya sarapan, pemilihan jajanan sehat, konsumsi sayur dan buah, serta pembatasan makanan tinggi gula, garam, dan lemak. Materi disampaikan menggunakan media visual dan poster agar lebih mudah dipahami serta dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Siswa juga mendapatkan pengetahuan mengenai pentingnya aktivitas fisik dan berbagai masalah gizi yang dapat terjadi selama masa pertumbuhan.

Siswa Belajar Mengukur Status Gizi Secara Langsung

Tidak hanya mendapatkan materi edukasi, para siswa juga mengikuti pemeriksaan status gizi melalui pengukuran berat badan dan tinggi badan. Kegiatan ini dilengkapi dengan pelatihan pengukuran antropometri secara berkelompok.

Melalui praktik tersebut, siswa diajak mengenal cara pengukuran status gizi secara sederhana. Pendekatan ini membuat kegiatan lebih partisipatif karena siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pembelajaran kesehatan.

Ketua pelaksana kegiatan, Rizki Nurmalya Kardina, menekankan pentingnya edukasi gizi sejak usia sekolah.

“Remaja merupakan kelompok yang perlu mendapatkan perhatian khusus karena kebiasaan makan yang terbentuk pada masa ini dapat memengaruhi kesehatan di masa dewasa. Edukasi gizi diharapkan membantu siswa memahami pentingnya memilih makanan yang lebih sehat dan mengenali kondisi status gizinya sejak dini,” ujarnya.

Pengetahuan Gizi Siswa Meningkat Setelah Edukasi

Efektivitas kegiatan dievaluasi melalui tes sebelum edukasi (pretest) dan sesudah edukasi (posttest). Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan siswa setelah mengikuti kegiatan.

Rata-rata nilai siswa meningkat dari 87,11 pada pretest menjadi 93,33 pada posttest, atau naik sebesar 6,22 poin. Selain itu, jumlah siswa yang memperoleh nilai sempurna juga meningkat secara signifikan. Pada pretest, sebanyak 43 siswa atau 47,8% memperoleh nilai 100. Setelah edukasi, jumlah tersebut bertambah menjadi 70 siswa atau 77,8%.

Hasil ini menunjukkan bahwa edukasi gizi yang disampaikan secara terstruktur, interaktif, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari dapat membantu meningkatkan pemahaman siswa tentang pentingnya pola makan sehat. Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap 90 siswa, distribusi status gizi yang dilaporkan dalam kegiatan ini adalah sebagai berikut:

  • 58% memiliki status gizi baik.

  • 22% mengalami gizi lebih.

  • 19% mengalami obesitas.

  • 1% mengalami gizi kurang.

Data tersebut menunjukkan bahwa gizi lebih dan obesitas menjadi perhatian penting.  Temuan ini menegaskan bahwa persoalan gizi remaja tidak hanya berkaitan dengan kekurangan gizi, tetapi juga kelebihan gizi. Pola konsumsi, kebiasaan memilih jajanan, aktivitas fisik, uang saku, dan ketersediaan makanan di lingkungan sekolah merupakan sejumlah faktor yang perlu diperhatikan dalam upaya membangun kebiasaan hidup sehat.

Dukung SDGs, Wujudkan Generasi Muda yang Lebih Sehat

Kegiatan edukasi dan pemeriksaan status gizi ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya:

  • SDG 2 – Zero Hunger: mendorong pemahaman tentang pemenuhan kebutuhan gizi yang baik dan seimbang.

  • SDG 3 – Good Health and Well-being: mendukung upaya promotif, preventif, dan deteksi dini masalah gizi.

  • SDG 4 – Quality Education: meningkatkan literasi kesehatan melalui pendidikan gizi di lingkungan sekolah.

Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, UNUSA menegaskan komitmennya untuk berkontribusi dalam peningkatan kesehatan masyarakat melalui edukasi, pemberdayaan, dan kolaborasi dengan lingkungan pendidikan.

Ke depan, edukasi gizi dan pemantauan status gizi diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan sekolah, guru, siswa, dan keluarga. Dengan demikian, kebiasaan makan sehat tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi juga bagian dari gaya hidup remaja.

Fakultas Kesehatan UNUSA terus berupaya menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui kegiatan edukasi dan pengabdian yang mendukung terwujudnya generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkualitas.